Ekoteologi Qur’ani dalam Pemikiran Seyyed Hossein Nasr dan Relevansinya terhadap Krisis Ekologis Kontemporer
DOI:
https://doi.org/10.51875/attaisir.v7i1.807Keywords:
Ekoteologi Qur'ani, Seyyed Hossein Nasr, Antroposentrisme, Tauhid, Etika LingkunganAbstract
Krisis ekologi global dewasa ini mencerminkan krisis spiritual dan epistemologis manusia modern yang memandang alam secara antroposentris dan materialistik. Dalam konteks tersebut, pemikiran Seyyed Hossein Nasr menawarkan paradigma alternatif melalui ekoteologi Islam yang berlandaskan pada prinsip tauhid, amanah, dan kesucian alam sebagai manifestasi dari tanda-tanda Ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ekoteologi Al-Qur'ani dalam perspektif Nasr serta relevansinya bagi pengembangan etika lingkungan Islam di era modern. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) dan analisis filosofis-komparatif terhadap karya-karya Nasr, khususnya Manusia dan Alam dan Agama dan Tatanan Alam . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nasr menolak paradigma sekuler yang memisahkan manusia dari alam dan Tuhan, serta menawarkan rekonstruksi spiritual terhadap hubungan kosmik yang harmonis. Ekoteologi Qur'ani menurut Nasr menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem sebagai bentuk ibadah. Konsep ini relevan sebagai dasar terbentuknya etika ekologis Islam dan kebijakan pembangunan berkelanjutan di dunia Islam, khususnya Indonesia.










