Al-Qur’an, Astrofisika, dan Energi Ghaib Nisbi
DOI:
https://doi.org/10.51875/attaisir.v7i1.842Keywords:
Al-Qur'an, astrofisika, energi ghaib nisbi, nūr, nārAbstract
Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan konsep energi dalam Al-Qur’an dan hadis dengan temuan astrofisika modern melalui analisis terhadap istilah nūr (cahaya) dan nār (api) sebagai representasi energi ghaib nisbi. Al-Qur’an menggambarkan malaikat diciptakan dari nūr dan jin atau syaithan dari mārij min nār—nyala api bercampur. Secara ilmiah, cahaya berkorelasi dengan gelombang elektromagnetik yang stabil dan menerangi, sedangkan api berkaitan dengan plasma, bentuk energi ionik yang mendominasi sekitar 99 % materi alam semesta menurut temuan NASA. Melalui pendekatan tafsir maudhu‘i interdisipliner, penelitian ini menemukan keselarasan antara wahyu dan sains dalam menggambarkan sistem energi kosmik yang seimbang antara keteraturan dan disrupsi. Energi cahaya merepresentasikan kekuatan penuntun (malaikat), sedangkan energi panas melambangkan kekuatan penguji (syaithan). Korelasi ini bersifat analogis dan epistemologis, bukan penyamaan hakikat material, sehingga menjaga batas antara fenomena empiris dan realitas ghaib. Hasil kajian menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang fenomena metafisik, tetapi juga menyajikan kerangka epistemologis yang rasional dan non-reduksionistik untuk memahami dinamika energi semesta dalam perspektif iman dan ilmu.
Kata kunci: Al-Qur’an, astrofisika, energi ghaib nisbi, nūr, nār










