https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/issue/feed AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies 2026-06-20T17:08:38+07:00 LPPM Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia lppmidaqu@gmail.com Open Journal Systems <p align="justify"><strong><img style="float: left; width: 168px; margin-top: 8px; margin-right: 10px; border: 2px solid #184b80;" src="https://jurnal.idaqu.ac.id/public/site/images/idaqu/cover-attaisir.jpg" width="157" height="238" />AT–TAISIR Journal of Indonesian Tafsir Studies</strong> is an electronic journal published by the LPPM Daarul Qur'an Institute (IDAQU). The focus and scope of AT-TAISIR includes sanad qiraat, studies of rasm manuscripts, studies of understanding lughoh in the al-Qur'an, schools of thought in interpretation, studies of bayan al-Qur'an science, studies of ma'ani science in the Qur'an, al-Qur'an and science, al the Koran and digital space, the Koran and science and technology, the Koran and pop culture, the Koran and politics, the Koran and social movements, the Koran and extremism, the Koran and terrorism, the Koran and the environment, the Koran and peace building , the study of the Koran and hermeneutics, living the Koran, the Koran and social society. Review processing using the system provided by OJS. It is published twice a year, in June and December. Editors accept contributions of articles in Indonesian that contain 2500-5000 words and have not been published by other media. Quote using APA style.</p> https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/1186 A CRITICAL REVIEW OF THE MAQȂṠIDĪ WASFĪ ASYŪR ABU ZAYD INTERPRETATION METHOD (Identification of the Books Al-Tafsir al-Maqāṣidī and Nahwa Tafsīr al-Maqāṣidī) 2026-05-04T13:39:16+07:00 Zainuddin Aziz zainuddinazizy91@gmail.com Romlah Widayati romlah@iiq.ac.id <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi buku <em>Al-Tafsir al-Maqāṣidī </em>dan <em>Nahwa Tafsīr al-Maqāṣidī</em> karya Waṣfī Asyūr Abu Zayd secara mendalam dengan cara memotret berbagai aspek yang berkenaan dengan buku, mulai dari materi dan sistematika penulisan, latar dan konteks penulisan, sumber rujukan, metode, pendekatan dan ideologi buku. Penelitian menggunakan jenis penelitian pustaka (<em>library research</em>) dengan pendekatan historis dan fenomenologis yang sumber datanya diambil dari dokumentasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari segi materi dan sistematika, kedua buku memuat tentang metode tafsir <em>maqāṣidī </em>secara sistematis; hanya saja buku kedua lebih lengkap dan layak disebut sebagai sebuah buku yang utuh sementara yang pertama hanya sebagai sebuah makalah. Sementara dari segi latar belakang dan konteks penulisan, walaupun lahir dari penulis yang sama akan tetapi kedua buku ditulis dalam suasana dan situasi yang berbeda, penulisan buku pertama dilakukan saat masih di Mesir sementara buku kedua ketika Abu Zayd berada di Turki. Adapun segi sumber rujukan, Abu Zayd benar-benar mengambil rujukan dari sumber-sumber yang otoritatif dan terpercaya dalam&nbsp; berbagai bidang keilmuan. Sementara dari segi metode, pendekatan dan ideologi&nbsp;menunjukkan bahwa keduanya disusun secara eksploratif dan sintesis dengan pendekatan filsafat ilmu dengan mengusung ideologi <em>Ahlu Sunnah</em><em>&nbsp;wal Jamā’ah</em> yang menjunjung tinggi <em>wasaṭiyah </em>(moderasi) Islam demi terwujudnya Islam yang membawa rahmat bagi segenap alam semesta (<em>rahmatan li al-‘ālamīn) </em>yang merupakan inti <em>maqāṣid</em> Al-Qur’an<em>. </em>Dengan demikian, kedua karya Abu Zayd layak untuk dijadikan sebagai referensi di bidang metodologi&nbsp; tafsir <em>maqāṣidī.</em></p> <p><strong>&nbsp;Kata Kunci</strong><em>: </em><em>Identifikasi, Al-Tafsir al-Maqāṣidī </em>dan <em>Nahwa Tafsīr al-Maqāṣidī</em>, Abu Zayd</p> 2026-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/1093 REKONSTRUKSI HUKUM PIDANA KORUPSI DALAM PERSPEKTIF TAFSIR AḤKĀM AL-QURṬUBĪ 2026-05-04T13:48:33+07:00 Anas Kholik anas.khalik@gmail.com Kholilurrohman Kholilurrohman aboufaateh@yahoo.com <p><em>Corruption remains a serious problem in state governance despite continuous strengthening of criminal regulations and oversight mechanisms. This condition indicates that a legal–formal approach has not fully captured the nature of corruption as a public crime with extensive social consequences. In modern legal discourse, corruption is commonly understood as an administrative and economic offense, while its dimensions as a betrayal of public trust and a source of structural damage tend to be marginalized. In contrast, the Qur’an conceptualizes such acts as violations of public amanah and as forms of fasād that disrupt social justice. This article aims to reconstruct the concept of criminal law on corruption through the perspective of tafsīr aḥkām, with Tafsīr al-Qurṭubī as the primary reference. </em><em>This study employs a thematic exegesis approach (tafsīr mawḍū‘ī) by examining Qur’anic verses related to trust (amānah), wealth, abuse of authority, and social corruption, which are analyzed within the frameworks of fiqh jināyah and maqāṣid al-sharī‘ah.</em><em> The findings indicate that, according to al-Qurṭubī, corruption cannot be reduced to a purely financial offense but should be understood as a jarīmah al-amānah that potentially generates structural fasād. Corruption is classified within the domain of ta‘zīr crimes, with the severity of punishment determined by the extent of social harm it produces. In certain circumstances, it may be conceptually characterized as a form of severe fasād bearing similarities to the nature of ḥirābah. These findings affirm an epistemological foundation for developing a more integrative paradigm of anti-corruption criminal law, oriented toward the protection of public trust and the realization of public welfare.</em></p> 2026-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/1176 Manhaj Penafsiran Ayat Ru’yatullah dalam QS al-Qiyāmah: 22–23: Studi Komparatif Tafsir al-Kasysyaf dan Jāmiʿ al-Bayān 2026-05-04T13:53:29+07:00 Nur Intan Rahmadani nurintanrahmadani58@gmail.com Syafruddin 24200800@uinib.ac.id Radhiatul Hasnah radhiatulhasnah@gmail.com <p>Penelitian ini menganalisis manhaj penafsiran al-Zamakhsyari dan al-Ṭhabari dalam menafsirkan ayat <em>ru’yatullah</em> pada QS al-Qiyāmah ayat 22–23 melalui studi komparatif terhadap tafsir al-Kasysyaf dan Jāmiʿ al-Bayān. Perbedaan penafsiran terhadap ayat-ayat al-Qur’an merupakan fenomena yang lazim dalam tradisi tafsir sejak masa klasik hingga kontemporer. Perbedaan tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, di antaranya latar belakang keilmuan, kecenderungan teologis, serta metode penafsiran yang digunakan oleh para mufassir. QS al-Qiyāmah ayat 22–23 merupakan salah satu ayat yang sering menjadi perdebatan karena berkaitan dengan persoalan ru’yatullah. Dalam menafsirkan ayat tersebut, al-Zamakhsyari dalam Tafsir al-Kasysyaf memahami kata <em>nāẓirah </em>dengan makna “menunggu” atau “mengharap”, sedangkan al-Ṭhabari dalam Jāmiʿ al-Bayān menafsirkannya dengan makna “melihat”. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan <em>(library research)</em> serta analisis komparatif terhadap penafsiran kedua mufassir tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan penafsiran tersebut tidak hanya disebabkan oleh perbedaan pemaknaan linguistik terhadap kata <em>nāẓirah</em>, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan manhaj penafsiran yang digunakan oleh masing-masing mufassir. Al-Zamakhsyari cenderung menggunakan pendekatan kebahasaan dan rasional yang dipengaruhi oleh kecenderungan teologi Muʿtazilah, sedangkan al-Ṭhabari lebih menekankan pendekatan <em>tafsir bi al-ma’tsūr </em>dengan merujuk pada riwayat sahabat dan <em>tabi’in.</em> Dalam perspektif teori ikhtilāf al-mufassirīn, perbedaan tersebut termasuk dalam kategori <em>ikhtilāf al-taḍādd.</em></p> 2026-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/807 Ekoteologi Qur’ani dalam Pemikiran Seyyed Hossein Nasr dan Relevansinya terhadap Krisis Ekologis Kontemporer 2026-05-04T14:01:51+07:00 Ahmad ahmadkhaerussalam@mhs.ptiq.ac.id Salman Ali salman.ali@mhs.ptiq.ac.id Nur Arfiyah Febriani febriani@ptiq.ac.id Abdul Muid N. balesaloe@gmail.com <p><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Krisis ekologi global dewasa ini mencerminkan krisis spiritual dan epistemologis manusia modern yang memandang alam secara antroposentris dan materialistik. Dalam konteks tersebut, pemikiran Seyyed Hossein Nasr menawarkan paradigma alternatif melalui ekoteologi Islam yang berlandaskan pada prinsip tauhid, amanah, dan kesucian alam sebagai manifestasi dari tanda-tanda Ilahi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep ekoteologi Al-Qur'ani dalam perspektif Nasr serta relevansinya bagi pengembangan etika lingkungan Islam di era modern. Metode yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan pendekatan tafsir tematik (maudhu'i) dan analisis filosofis-komparatif terhadap karya-karya Nasr, khususnya </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Manusia dan Alam</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> dan </span></span><em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;">Agama dan Tatanan Alam</span></span></em><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"><span dir="auto" style="vertical-align: inherit;"> . Hasil penelitian menunjukkan bahwa Nasr menolak paradigma sekuler yang memisahkan manusia dari alam dan Tuhan, serta menawarkan rekonstruksi spiritual terhadap hubungan kosmik yang harmonis. Ekoteologi Qur'ani menurut Nasr menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem sebagai bentuk ibadah. Konsep ini relevan sebagai dasar terbentuknya etika ekologis Islam dan kebijakan pembangunan berkelanjutan di dunia Islam, khususnya Indonesia.</span></span></p> 2026-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/1080 The Mediatization of Interpretations of Family-Related Verses on Instagram: An Analysis of Authority, Reduction of Meaning, and Media Logic on the @keluargahamzi Account 2026-05-04T13:57:54+07:00 Syamsul Ma'arif Ilyas syam.maarif09@gmail.com Muh. Alimin muh.alimin@uinpalopo.ac.id Harel Bayu Paizin harelbayupaizin@uinpalopo.ac.id Ahmad Tri Muslim HD ahmadtrimuslimhd@uinpalopo.ac.id <p><em>This article examines the mediatization of interpretations of family-related verses on the Instagram account @keluargahamzi in the context of the transformation of interpretive authority on social media. Previous studies on digital interpretation have generally focused on social media da’wah, the “living Qur’an,” and the popularization of religion; however, few have highlighted how media logic shapes the reduction, simplification, and reframing of the meanings of family-related verses in the digital space. This research employs a qualitative content analysis approach using Stig Hjarvard’s framework of religious mediatization, integrated with an epistemological perspective on interpretation. The research data consists of posts from the @keluargahamzi account from 2019 to 2023 that feature family-related verses in the form of images, captions, and video reels. The data were analyzed through a process of thematic categorization, identification of patterns of interpretive simplification, and analysis of the relationship between Instagram’s media features and the construction of verse meanings.The findings reveal that the mediatization of interpretation on the @keluargahamzi account occurs through three primary patterns: the symbolic visualization of verses, the simplification of interpretive contexts, and the normative framing of the Islamic family. First, family-related verses are visually represented through domestic symbols that align with Instagram’s aesthetic logic. Second, interpretations tend to emphasize literal meanings and practical moral lessons while downplaying historical dimensions, asbāb al-nuzūl, and the complexity of classical exegesis. Third, Instagram features such as Reels, captions, and hashtags function as tools for meaning production as well as new digital interpretive authorities. This study demonstrates that social media not only serves as a channel for disseminating interpretations but also shapes how verses are understood, negotiated, and popularized within the digital public sphere.</em></p> 2026-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/842 Al-Qur’an, Astrofisika, dan Energi Ghaib Nisbi 2026-05-04T13:51:40+07:00 Anas Kholik anas.khalik@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan mengintegrasikan konsep energi dalam Al-Qur’an dan hadis dengan temuan astrofisika modern melalui analisis terhadap istilah <em>nūr</em> (cahaya) dan <em>nār</em> (api) sebagai representasi energi ghaib nisbi. Al-Qur’an menggambarkan malaikat diciptakan dari <em>nūr</em> dan jin atau syaithan dari <em>mārij min nār</em>—nyala api bercampur. Secara ilmiah, cahaya berkorelasi dengan gelombang elektromagnetik yang stabil dan menerangi, sedangkan api berkaitan dengan plasma, bentuk energi ionik yang mendominasi sekitar 99 % materi alam semesta menurut temuan NASA. Melalui pendekatan tafsir <em>maudhu‘i</em> interdisipliner, penelitian ini menemukan keselarasan antara wahyu dan sains dalam menggambarkan sistem energi kosmik yang seimbang antara keteraturan dan disrupsi. Energi cahaya merepresentasikan kekuatan penuntun (<em>malaikat</em>), sedangkan energi panas melambangkan kekuatan penguji (<em>syaithan</em>). <strong>Korelasi ini bersifat analogis dan epistemologis, bukan penyamaan hakikat material, sehingga menjaga batas antara fenomena empiris dan realitas ghaib.</strong> Hasil kajian menegaskan bahwa Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang fenomena metafisik, tetapi juga menyajikan kerangka epistemologis yang rasional dan non-reduksionistik untuk memahami dinamika energi semesta dalam perspektif iman dan ilmu.</p> <p><strong>Kata kunci:</strong> Al-Qur’an, astrofisika, energi ghaib nisbi, <em>nūr</em>, <em>nār</em></p> 2025-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies https://newjurnal.idaqu.ac.id/index.php/at-taisir/article/view/1121 Rasionalitas Tauhid dalam Dialog Nabi Ibrahim as dan Raja Namrud: Kajian Tafsir QS. Al-Baqarah Ayat 258 2026-05-04T13:57:00+07:00 ST MAGFIRAH stmagfirahn@gmail.com <p><em>This article discusses the conversation between Prophet Ibrahim as and King Namrud recounted in Surah Al-Baqarah, verse 258. The conversation depicts a discussion regarding the attributes of Allah and His power. This verse reflects the wisdom of Prophet Ibrahim as in delivering his message, which did not rely on empty rhetoric or coercion, but rather on a simple yet logical, argumentative and effective approach to refute King Namrud’s claims to divinity. This study explains the meaning of the verse using an interdisciplinary approach through a review of classical and modern exegetical literature (exegetical works such as Jami' al-Bayan fi Ta'wil al-Qur'an by al-Thabari, Tafsir al-Qur'an al-‘Azhim by Ibn Katsir, Al-Jami’ li Ahkam al-Qur'an by al-Qurthubi and Tafsir al-Misbah by M. Quraish Shihab). This study employs the tahlili method combined with historical, philosophical and sociological approaches. The research findings indicate that this discussion not only holds theological value but also conveys moral and social messages in confronting oppressive power. Prophet Ibrahim’s arguments demonstrate the power of reason in conveying the doctrine of tawhid without resorting to violence and serve as a model for conveying the truth wisely and firmly. Therefore, in the context of the modern world, which remains marked by various forms of authoritarianism and a decline in spiritual values, the messages in Surah Al-Baqarah, verse 258</em></p> 2026-06-19T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2026 AT-TAISIR: Journal of Indonesian Tafsir Studies